Kemenangan pemuda berusia 19 tahun ini tidak diraih dengan mudah, melainkan lewat drama adu kecepatan yang sangat menegangkan hingga meter terakhir. Andrean sukses menorehkan catatan waktu impresif 1 menit 8,657 detik. Ia mengunci posisi puncak klasemen dengan keunggulan yang sangat tipis, yakni hanya berjarak 0,122 detik dari rival terberatnya asal Kota Semarang yang harus puas di posisi kedua dengan waktu 1 menit 8,779 detik.
Ketegangan di pinggir lintasan sangat dirasakan oleh jajaran pelatih. Mohammad Mayasin, selaku pelatih balap sepeda kontingen Kota Surakarta, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Ia menyebut pencapaian ini sungguh di luar prediksi dan melampaui target awal yang dipatok oleh tim pelatih.
"Alhamdulillah, perlombaan yang sangat menguras jantung hari ini bisa kita menangkan. Persaingannya benar-benar ketat sejak awal start, bahkan selisih waktu dengan pembalap lain hanya terpaut sepersekian detik. Ini adalah hasil dari kerja keras luar biasa," beber Mayasin dengan bangga.
Lawan Angin dan Pecahkan Rekor Pribadi
Di balik medali emas yang berkilau, terdapat kisah perjuangan yang cukup emosional dari seorang Andrean. Mahasiswa yang baru menginjak semester pertama di program studi Manajemen Bisnis, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) ini, awalnya sempat meragukan kemampuannya sendiri.
Keraguan itu bukan tanpa alasan. Selama masa pemusatan latihan, catatan waktu Andrean belum menunjukkan hasil yang menjanjikan untuk meraih medali. Rekor terbaiknya saat latihan hanya berkisar di angka 1 menit 9 detik. Malapetaka seolah datang pada sesi latihan terakhir jelang hari H, di mana performanya justru anjlok drastis ke angka 1 menit 15 detik.
Namun, mental juara berbicara di lintasan yang sesungguhnya. Tekanan bertanding justru mengubahnya menjadi 'monster' di atas pedal. Waktu 1 menit 8,657 detik yang ia cetak bukan sekadar membuahkan emas, tetapi juga mengukir rekor pribadi (Personal Best) sepanjang karier balapnya.
"Pertandingan hari ini jujur sangat berat. Karena kita main di outdoor (luar ruangan), hembusan anginnya lumayan kencang dan jadi tantangan ekstra, beda dengan velodrome indoor. Tapi, puji Tuhan saya bisa menempati nomor satu dan dapat emas. Latihan yang menguras tenaga selama ini akhirnya terbayar lunas," ungkap Andrean.
Persiapan Andrean untuk menaklukkan Velodrome Manahan tidak main-main. Usai merampungkan berbagai jadwal balapan tur, ia langsung 'mengurung diri' selama dua bulan penuh untuk fokus latihan spesifik di nomor velodrome. Setiap hari ia berlatih keras untuk menemukan ritme dan kecepatan maksimal.
Selain faktor cuaca, tantangan mental juga datang dari deretan pesaingnya. Dalam perlombaan tersebut, Andrean harus berhadapan langsung dengan atlet berlabel tim nasional, Sabit. Beruntung, Andrean mampu menjaga ketenangannya. Meski sang rival nasional sempat mengalami kendala teknis di tengah balapan, Andrean tetap fokus pada jalurnya sendiri untuk memastikan posisi teratas aman di genggamannya.
Menolak Santai, Bidik 'Hat-trick' Emas
Sumbangan satu medali emas yang krusial ini tak lantas membuat tim balap sepeda Kota Surakarta menggelar pesta perayaan dini. Perjuangan di Porprov Jateng 2026 masih berlanjut, dan peluang untuk mendulang pundi-pundi medali masih terbuka lebar.
Coach Mayasin memaparkan bahwa Andrean masih memiliki tugas berat karena dijadwalkan turun di dua nomor langganan medali lainnya, yaitu keirin dan scratch. Selain mengandalkan Andrean, kontingen Surakarta juga tengah mematangkan persiapan dua pembalap lainnya, yakni Pratama Kristanto dan Bilyen Fawwaz, yang siap mencuri panggung di sisa kompetisi.
Sang pahlawan hari ini pun menegaskan bahwa dirinya enggan berpuas diri. Mahasiswa UAJY ini bertekad untuk kembali mengharumkan nama Kota Surakarta di kancah provinsi. Dengan rasa percaya diri yang tengah memuncak, ia siap menyapu bersih sisa nomor yang ia ikuti.
"Target selanjutnya sudah pasti. Saya ingin emas lagi seperti hari ini," pungkas Andrean mantap. Sebuah sinyal peringatan yang jelas bagi daerah lain bahwa pembalap muda Surakarta ini masih 'haus' akan gelar juara.